Banyak hal yang akan kuceritakan kali ini, tentang mengajar anak-anak muda masa kini, tentang mimpiku akan perjuangan pendidikan yang lebih tinggi, tentang kesempatan yang lebih besar akan baktiku pada sang ibu, tentang rumah kecil kami yang sedang di renovasi, tentang perusahaanku yang mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan, dan pastinya tentang jagoan kami yang tumbuh dan berkembang sangat pesat sekali ![]()
Biarlah kumulai dari anak-anak muda masa kini yang kukenal dan kulayani. Tak bisa kupungkiri, anak muda saat ini sangat cepat dan punya respon tinggi dalam memahami sesuatu. Hal ini bisa jadi diakibatkan lingkungan tempat mereka tumbuh telah dipenuhi dengan perangkat keras yang sarat dengan teknologi tinggi dan terjangkau dengan biaya murah. Mereka begitu peka terhadap perubahan informasi, sangat responsif terhadap perubahan pengetahuan sosial, bahkan sebagian sangat percaya diri dengan segala yang mereka miliki. Hanya saja, sebagian besar –sekali lagi sebagian besar, anak muda masa kini memiliki kualitas sopan santun yang sangat buruk.
Entah kenapa, sebagai seorang dosen –kalaupun tidak layak disebut pendidik, saya sangat terpukul dan kecewa jika anak-anak muda masa kini yang cerdas ini ternyata tidak memiliki kualitas sopan santun yang memadai. Ada banyak evaluasi yang sempat mampir di kepala biasa saya ini, adakah sopan santun sudah tidak lagi dibutuhkan dalam mengarungi hidup di zaman serba modern dan canggih saat ini?Apakah karena banyak literatur tentang kesuksesan yang meletakkan kunci keberhasilan pada usaha yang keras dan kecerdasan, sehingga lupa meletakkan sopan santun sebagai kunci kesuksesan utama?Adakah sikap orang tua pula yang tidak layak menjadi panutan sehingga sopan santun tidak lagi menjadi prioritas?Ataukah memang sopan santun bukanlah hal istimewa yang harus dimiliki pribadi muda dalam melewati fase hidup paling menantang ini?
Saya masih belum menemukan jawabannya secara pasti, tapi yang jelas ssaya punya sedikit nasihat –kalaupun tidak layak mohon diabaikan, “Bahwa diatas segala bentuk kecerdasan, sopan santun (akhlaq yang mulia) adalah hal yang utama”.
Mari kita lanjutkan perjalanan kedua, mengenai perjuangan pada level pendidikan yang lebih tinggi. Sebenarnya saya malu membahas ini, karena ada perbedaan kualitas mencolok diri saya yang sebenarnya dengan yang disangka orang. Tapi saya bahas sedikit saja, bahwa jika Allah berkenan memperlancar proses perjuangan ini, maka itu bukan berarti karena saya cerdas dan pintar, tapi karena keberuntungan semata. Banyak teman-teman seperjuangan saat jadi mahasiswa S1 dulu paham betul bahwa kecerdasan otak saya tidak sehebat yang disangka orang, saya hanya beruntung pernah bersama orang-orang hebat yang inspirasinya saya ceritakan kembali
…
